Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Januari 2012

Umar bin Khaththab Menghapus Tradisi Gadis Persembahan Untuk Sungai Nil Yang Mengandung Kesyirikan

Salah satu fungsi negara dalam Islam adalah untuk menjaga agama. pada zaman Khulafaur Rasyidin hal ini menjadi perhatian yang sangat serius. Negara benar-benar menjadi perisai, pelindung umat dari ajaran-ajaran yang menyesatkan. Salah satu contoh penjagaan akidah umat adalah kisah yang pernah terjadi pada masa kepemimpinan Amirul Mukminin Umar bin Khathab. Khalifah Umar telah mendorong rakyat untuk menganut akidah Islam yang benar dan murni, memerangi syubhat-syubhat yang didakwahkan para pelaku penyimpangan dan membantah tipuan-tipuan para musuh Islam yang menyiarkan ajaran-ajaran menyimpang dan aneka ragam khurafat. 

Selasa, 05 April 2011

Kisah Perang Uhud (Bagian II)

Genderang perang semakin nyaring saja bunyinya, kuncuran darah, ringkikan kuda, dencing suara pedang semakin menambah warna kental suasana bumi Uhud saat itu. Perang berkecamuk merata di setiap titik bak kobaran api menjalar membakar rerumputan kering, jagoan-jagoan Islam benar-benar menampakkan kehebatan dan kepiawaian mereka dalam putaran perang kali ini, militansi pasukan Islam merupakan buah dari kekuatan iman yang merasuk dan terpatri kuat dalam hati mereka, seakan-akan iman telah memenuhi setiap pembuluh darah mereka, kecilnya jumlah tak menyiutkan nyali para pejuang demi tegaknya agama Allah Subhanahu wa ta'ala di muka bumi. Mereka begitu yakin bahwa kematian tidak akan dipercepat dengan perang dan tidak pula diundur dengan meninggalkannya. Bermodalkan iman dan semangat membaja mereka bertawakal kepada Rabbul Alamin menggadaikan nyawa mereka demi kenikmatan abadi disisi Allah subhanahu wa ta’alaAl-Jannah (surga). 

Kisah Perang Uhud (Bagian I)

Kaum Quraisy seperti Ikrimah bin Abu Jahal, Shafwan bin Umayah, dan Abu Sufyan bin Harb - (sebelum mereka masuk Islam) bangkit sebagai pelopor-pelopor yang sangat getol mengorbankan api balas dendam terhadap Islam dan pemeluknya. Para orator ulung bangsa Arab tersebut menempuh langkah-langkah jitu untuk memuluskan program balas dendam tersebut, mula-mula mereka melarang warga Makkah meratapi kematian korban tewas perang Badar kemudian menunda pembayaran tebusan kepada pihak muslim untuk membebaskan tawanan Quraisy yang masih tersisa di Madinah. Mereka sibuk menggalang dana untuk menyongsong aksi balas dendam, mereka datang kepada para pemilik kafilah dagang Quraisy yang merupakan pemicu utama terjadinya perang Badar, seraya menyeru: ”Wahai orang-orang Quraisy! Sungguh Muhammad telah menganiaya kalian serta membunuh tokoh-tokoh kalian! Maka bantulah kami dengan harta kalian untuk membalasnya! Mudah-mudahan kami bisa menuntut balas terhadap mereka.”

Kamis, 24 Maret 2011

Si Belang, Si Botak, dan Si Buta

Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wassalam bersabda, "Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil yang belang, botak, dan buta. Allah bermaksud menguji mereka, maka Allah mengutus malaikat kepada mereka. 
Malaikat itu datang kepada Si Belang dan bertanya, 'Apakah sesuatu yang paling engkau inginkan?'
Si Belang menjawab, 'Saya menginginkan paras yang tampan dan kulit yang bagus serta hilangnya penyakit yang menjadikan orang-orang jijik kepadaku.'
Maka, malaikat itu lantas mengusap Si Belang. Seketika itu hilanglah penyakit yang menjijikkan itu serta ia diberi paras yang tampan dan kulit yang bagus. 

Senin, 14 Maret 2011

Juraij al-Abid

Kisah Juraij adalah kisah yang besar yang mengandung banyak pelajaran-pelajaran dan nasehat. Juraij merupakan seorang dari kalangan Bani israil yang ahli ibadah dan dikenal shalih. Bukhari meriwayatkan dalam shahih-Nya dari Abu Hurairah. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Tidak berbicara dalam buaian kecuali tiga orang: Isa. Dan di kalangan Bani Israil terdapat seorang laki-laki yang bernama Juraij. Dia sedang shalat. Lalu ibunya mendatanginya dan memanggilnya. Juraij berkata, 'Aku menjawabnya atau meneruskan shalat.' Ibunya berkata, 'Ya Allah, jangan matikan Juraij sebelum Engkau membuatnya melihat wajah wanita pelacur.' Pada waktu itu Juraij sedang berada di kuilnya, maka datanglah seorang wanita yang menawarkan diri kepadanya, tetapi juraij menolak. Lalu wanita itu mendatangi seorang pengembala dan melakukan zina dengannya. Wanita itu melahirkan seorang bocah. Wanita itu berkata, 'Anak ini dari Juraij.' Orang-orang pun mendatangi Juraij. Mereka menghancurkan kuilnya, mengeluarkannya dan mencacinya. Juraij lalu berwudhu melakukan shalat, kemudian mendatangi anak wanita itu. Juraij bertanya, 'Wahai bocah, siapa bapakmu?' Anak itu menjawab, 'Fulan si penggembala.' Orang-orang berkata, 'Kami akan membengun kuilnya dari emas.' Juraij menjawab, 'Tidak. Cukup dengan tanah.'"


Sabtu, 12 Maret 2011

Wanita Yang Menasehati Seorang Yang Alim

Ini adalah kisah seorang Bani Israil yang disampaikan oleh seseorang yang masuk Islam diantara mereka.
Malik di dalam Muwattha' meriwayatkan dari Yahya bin Said dan Al-Qasim bin Muhammad bahwa dia berkata, "Istriku wafat, maka Muhammad bin Kaab Al-qurazhi mendatangi untuk bertakziyah. Muhammad berkata, "Di kalangan Bani Israil terdapat seorang faqih, alim, ahli ibadah dan ahli berijtihad. Dia beristri. Dia mengagumi dan mencintai isterinya. Ketika istrinya wafat, dia sangat bersedih dan sangat menyesalinya, hingga dia menyendiri di rumah, menutup diri, dan menghindari orang-orang. Tidak ada seorang pun yang menemuinya.

Jumat, 04 Maret 2011

Kisah Bocah Dalam Gendongan

Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam beliau bersabda, "Di kalangan Bani Israil terdapat seorang wanita yang menyusui putranya. Lalu seorang laki-laki berkendara dan berpenampilan menawan melewatinya. Wanita itu berkata, 'Ya Allah, jadikanlah anakku seperti orang ini.' Anak yang disusuinya itu meninggalkan susunya  dan memandang laki-laki si pengendara dan berkata, 'Ya Allah, janganlah Engkau menjadikanku sepertinya.' Kemudian dia meneruskan mengisap susunya." Abu Hurairah berkata, "Seolah-olah aku melihat Nabi mengisap jarinya."

Wanita Penyisir Putri Fir'aun

Salah satu kisah yang menunjukkan betapa kuatnya keimanan seseorang adalah tentang keimanan wanita penyisir putri Fir'aun. Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Abdullah bin Abbas berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Pada malam aku ber-Isra', aku mencium aroma yang harum. Aku bertanya, 'Wahai Jibril, aroma harum apa ini?' Jibril menjawab, 'Ini adalah aroma wanita penyisir putri Fir'aun dan anak-anak wanita itu.' Aku bertanya, 'Bagaimana kisahnya?' Jibril menjawab, 'Suatu hari, ketika dia sedang menyisir putri Fir'aun, tiba-tiba sisir jatuh dari tanganya. Dia berkata, 'Bismillah.' Putri Fir'aun berkata kepadanya, 'Bapakku.' Dia menjawab, 'Bukan, akan tetapi Tuhanku dan Tuhan bapakmu adalah Allah.' 

Selasa, 22 Februari 2011

Kisah Musa dan Khidir

Kisah Musa dan Khidir telah disebutkan dalam Al-Qur'an surat Al-Kahfi.
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih keduanya, dari Said bin Jubair. Ia bercerita, "Aku pernah mengatakan kepada Ibnu Abbas bahwa Nauf Al-Bikali mengatakan bahwa Musa, sahabat Khidhir tersebut, bukanlah Musa dan sahabat Bani Israil. Maka Ibnu Abbas pun berkata, "Musuh Allah itu telah berdusta." Ubay bin Kaab pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya Musa pernah berdiri memberikan ceramah kepada Bani Israil, lalu ia ditanya, 'Siapakah orang yang paling banyak ilmunya?' Ia menjawab, 'Aku.' Maka Allah mencelanya, karena ia tidak mengembalikan ilmu kepada-Nya. Lalu Allah mewahyukan kepadanya, 'Sesungguhnya Aku mempunyai seorang hamba yang berada di tempat pertemuan dua laut, yang ia lebih berilmu daripada dirimu.' Musa berkata, 'Ya Tuhanku, bagaimana bisa aku menemuinya?' Dia berfirman, 'Pergilah dengan membawa seekor ikan, dan letakkanlah ia di dalam keranjang. Di mana ikan itu hilang, maka di situlah Khidhir itu berada.'

Senin, 21 Februari 2011

Wanita Yang Masuk Neraka Karena Seekor Kucing

Sudah merupakan kewajiban bagi sesama makhluk Allah untuk saling tolong menolong dan tidak menyiksa  baik dengan sesama manusia maupun  dengan hewan. Berikut ini merupakan kisah dari seorang wanita yang masuk neraka karena berbuat zalim terhadap seekor kucing. Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Umar dari Nabi bersabda, "Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang dia kurung sampai mati. Dia masuk neraka karenanya. Dia tidak memberinya makan, dan minum sewaktu mengurungnya. Dia tidak pula membiarkannya dia makan serangga bumi."

Jumat, 18 Februari 2011

Kisah Wanita Yang Memakai Sepasang Kaki Dari Kayu

Berikut merupakan sebuah kisah Bani Israil yang terjadi pada saat Bani Israil sibuk dengan penampilan palsu yang menyebabkan mereka celaka dan binasa. Ketaqwaan dan keshalihan pada diri mereka telah menipis. Kerusakan menumpuk dan kesibukan terhadap perkara-perkara remeh meningkat. Maka Allah menguasakan musuh mereka atas mereka. Musuh-musuh itu mengalahkan dan menghinakan mereka. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyampaikan kepada kita tentang sebuah bentuk kerusakan dan perhatian terhadap penampilan palsu yang ada di masyarakat Bani Israil. Seorang wanita bertubuh pendek memakai sepasang kaki palsu dari kayu untuk memanjangkan tubuhnya. Dia membuat cincin khusus yang bisa menyimpan minyak wangi di dalamnya agar bisa membangkitkan nafsu kaum laki-laki dengan aromanya manakala dia melewati mereka. 

Rabu, 09 Februari 2011

Surat Hasan al Bashri kepada Umar bin Abdul Aziz

Hasan Al-Basri rohimahullah menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz rohimahullah, dan dalam suratnya Hasan Al-Basri berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya tafakkur Itu mengajak pelakunya kepada kebaikan dan mengamalkannya. Menyesali kejahatan Itu membuat pelakunya meninggalkannya.
Apa yang telah hilang – kendati sangat banyak-tidak bisa dibandingkan dengan apa
yang masih ada, kendati mencarinya adalah sesuatu yang mulia. Bersabar terhadap kelelahan sebentar yang menghasilkan istirahat lama itu lebih baik , daripada penyegeraann istirahat sebentar yang menghasilkan kelelahan abadi.

Rabu, 19 Januari 2011

Tobatnya Pembunuh 100 Orang

Dituturkan dari Abu Sa'id Sa'ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri r.a. bahwasanya Rasulullah Shallalahu 'alaihi wassalam bersabda Dahulu kala ada seseorang yang telah membunuh 99 orang. Kemudian dia mencari-cari orang yang paling alim di negeri itu. Maka dia ditunjukkan kepada seorang pendeta. Dia pun lantas datang kepada seorang pendeta dan bercerita bahwa dia telah membunuh 99 orang. Dan bertanya apakah tobatnya masih diterima. Sang pendeta mengatakan bahwa tobatnya tidak diterima. orang itu pun membunuh sang pendeta. Maka genaplah orang yang dia bunuh menjadi 100 orang. (Selepas itu) dia lantas mencari lagi orang yang paling alim di negeri itu. Maka, dia pun ditunjukkan kepada seseorang yang sangat alim. Kemudian, dia juga bercerita telah membunuh 100 orang. Karena itu, apakah tobatnya masih diterima. 

Orang yang sangat alim itu menjawab, "Ya masih dapat". Lalu orang yang snagat alim tersebut memerintahkan sang pembunuh untuk pergi di suatu tempat dimana penduduknya hanya menyembah kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Dan sembahlah bersama mereka dan janganlah engkau kembali lagi ke kampung halamanmu karena perkampunganmu merupakan daerah hitam. Maka pergilah orang itu. selepas menempuh jarak kira-kira setengah perjalanan, matilah dia. Kemudian bertengkarlah Malaikat Rahmat dan Malaikat Siksa. Malaikat Rahmat berkata, "Dia berangkat benar-benar untuk bertobat dan menyerahkan dirinya dengan setulus hati kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala". Malaikat Siksa berkata, "Sesungguhnya dia belum berbuat kebajikan, sedikit pun!" Lantas datanglah Malaikat dalam bentuk manusia. Kedua malaikat itu pun menjadikannya sebagai hakim.Maka, berkatalah Malaikat dalam bentuk manusia itu, "Ukurlah oleh kalian kedua daerah itu pada daerah yang lebih dekat itulah ketentuan nasibnya". Mereka kemudian mengukurnya. Mereka mendapatkan ternyata daerah yang ditujulah yang lebih dekat. Maka, orang itu dicabut nyawanya oleh Malaikat Rahmat (Hadist ini dituturkan oleh Bukhari dan Muslim)